Jumat, 12 Desember 2008

Belajar dari Sejarah: Evaluasi Kritis atas Aktivis Mahasiswa


Mahasiswa dalam sejarahnya selalu memegang posisi penting, baik yang terkait dengan perubahan sosial, budaya sampai pada perubahan tatanan politik suatu negara. Di Spanyol, gerakan mahasiswa mempelopori terjadinya Revolusi Spanyol tahun 1930-an. Di Argentina, demontrasi dan gerakan mahasiswa memainkan peranan penting dalam penggulingan Peron. Di Indonesia., mahasiswa mampu menjadi pelopor utama dalam berbagai perubahan sosial, politik dan ekonomi. Misalnya saja, Gerakan Mahasiswa tahun 60-an melahirkan Orde Baru, tahun 70-an Gerakan Mahsiswa mampu mempengaruhi kebijakan ekonomi negara, tahun 1998 Gerakan Mahasiswa memunculkan Gerakan Reformasi.

Gerakan mahasiswa dalam menyalurkan aspirasinya cenderung melakukannya melalui protes. Berbeda dengan pola umum yang biasa dilakukan dalam kelembagaan demokrasi yang menyalurkan aspirasinya melalui lembaga politik. Gerakan protes ini merupakan alternatif gerakan yang dilakukan sebagai budaya tandingan dari simbol minoritas. Ketidaksesuaian antara kenyataan sosial dengan sistem tatanan sosial yang ada menjadi pendorong aksi protes.

Sudah selayaknya mahasiswa yang konon adalah kaum intelektual dengan segudang ideologi yang mereka miliki menyumbangkan pikirannya untuk perubahan. Entah itu dalam bentuk aksi protes ataupun sejenisnya. Tapi perlu menjadi catatan bahwa perubahan yang dilakukan dari kondisi bersama untuk kondisi bersama yang lebih baik, bukan untuk golongan tertentu saja.

Ada sebuah pertanyaan besar ketika menengok kepeloporan gerakan mahasiswa dalam melakukan pembaharuan yang terjadi di negara kita. Apakah gerakan mahasiswa sudah menempatkan pembaharuan tersebut sebagai implikasi dari idealisme gerakan mahasiswa ataukah justru pemanfaatan gerakan mahasiswa untuk kepentingan politik yang pragmatis? Jika kita lihat alur perubahan yang terjadi, gerakan mahasiswa selalu dimanfaatkan oleh kekuatan politik untuk kepentingan kekuasaan. Perubahan pada tahun 1966 dipelopori mahasiswa dengan bantuan tentara menurunkan Soekarno dari tampuk kekuasaan dan menaikan Soeharto dari kelompok militer sebagai pemegang kekuasaan yang baru. Pemilu tahun 1991, giliran para teknorat yang naik ke pusat kekuasaan. Gerakan Protes tahun 77-80-an giliran membawa para cendikiawandan profesional duduk di tampuk kekuasaan. Tahun 1998, gerakan protes mahasiswa menempatkan para petualang politik pada pusat kekuasaan.

Dalam rentang waktu tersebut, perubahan yang dibawa gerakan mahasiswa tidak mampu membawa perbaikan sosial yang berkesinambungan. Harga barang dan kebutuhan pokok masyarakat melaju tinggi, tarif dasar listrik, BBM dan biaya pendidikan tak terbendung lagi. Kesalahan yang dicatat mahasiswa, mereka menurunkan pucuk pimpinannya tapi tidak merubah sistem yang ada didalamnya.

Melihat sejarah gerakan mahasiswa tempo lalu, harusnya aktivis mahasiswa dikampus bisa belajar banyak. Mereka tak perlu bekerjasama dengan pihak-pihak terkait, apalagi mengatas namakan golongan tertentu. Memasukkan idealisme yang dianut dan menukarnya dengan pelegalan kebijakan yang memberatkan mahasiswa. Gerakan protes menentang kebijakan birokrat yang dilakukan seolah tidak berarti, ketika pimpinan tertinggi diatasnya dengan para birokrat telah melakukan perjanjian jual-beli. Gerakan protes tersebut seolah hanya formalitas dan topeng belaka, tanpa bisa merubah kebijakan yang telah diketok palu. Sementara dibalik hal tersebut, terjalin hubungan mesra antara aktivis dengan birokrat. Akhirnya, mahasiswalah yang merasa rugi dengan adanya kebijakan itu.

Harusnya ini menjadi PR bersama bagi aktivis mahasiswa, bahwa Aktivis mahasiswa tidak boleh pamrih dan tidak boleh memiliki vested interests. Aktivis mahasiswa harus tulus, seperti tokoh Shane dalam film koboi. Shane datang kesuatu kecil yang penuh bandit yang kejam, dan berhasil menghabisi bandit-bandit tersebut. Tapi ketika ia diminta oleh para penduduk kota yang diselamatkan untuk menjadi sherif di kota itu, ia menolak. Shane lalu begitu saja.

1 komentar: