
Bulan Desember yang diperingati sebagai hari ibu telah mengerakkan berbagai kalangan untuk bersama-sama merayakannya. Entah itu merupakan aktualisasi hati nurani yang tercurah bagi ’kaum Ibu’ atupun yang numpang tenar pada event yang dikenal luas, yang pasti mereka bersama-sama berteriak nyaring. Suasa ini nampak ramai setidaknya sebelum terkalahkan pamor hari natal yang tidak kalah eksplosive ataupun tahun baru yang juga semaraknya. Akankah hari ibu sebatas itu saja? bahyak alibi yang menyatakan bahwa setiaphari adalah ”hari ibu”, namun juga baru sebatas nama saja. terlepas dari itu, masih ada hal yang jauh lebih penting yaitu perumusan kedudukan perempuan. Pada setiap masa yang berganti, maka kedudukan perempuan juga harus berganti termesuk pada masa sekarang ini yang sering banyak LSM serukan yakni penyetaraan gender. Tuntutan tersebut muncul karena banyak anggapan kalau perempuan dalam kedudukannya selalu dibawah pria, yang mendorong perampasan hak perempuan oleh laki-laki.
Dilihat dari sejarahnya tidak semua perempuan adalah demikian buruknya. salahsatunya adalah adalah istri Louis XIV yang membujuk untuk melakukan korupsi pada kerajaan. Disini dapat kita lihat kalaupun lelaki terlihat superioritasnya setidaknya hany sekedar pencitraan saja, namun sangat kontras sekali dalam praktiknya. Gambaran Louis XIV ini pasti adalah fenomena gunung es, yang artinya banyak kasus yang demikian terjadi pada sebuah keluarga. Bahkan lelaki sekeras dan skejam Hitler pun menyempatkan diri menikahi kekasihnya selama setengah hari sebelum ia meninggal. Sisi yang sarupa juga ditunmjukkan oleh Betris Prince, Lady Diana, Theresa, Gloria Magapacal Aroyo, Khadijah, ataupun kartini. Jelasa mereka sama sekali bukan seperti yang di anggap awam yakni termarginalkan oleh superioritas laki-laki.
Kontras dengan kondisi diatas yang sedikit alasan gender perempuan selalu kalah dalam segalanya. Kebudayaan budak yang legal diberbagai masa salah satunya adalah Timur Tengah yang menengahkan sosok perempuan adalah seharga secangkir arak, ataupun di Amerika saat para budak perempuan sebagai mesin pekerja perkebunan yang sekaligus sebagai mesin uang bagi majikannya. Kalaupun harus marah, ternyata kita sendiri juga pernah mengalami perdagangan budak perempuan yang kebanyakan diperjualbelikan kepada saudagar keturunan Tionghoa. Belumlagi dalam kondisi keamanan yang tidak menguntungkan maka perempuanlah yang pertama menerima akibatnya, hal ini selalu terjadi diberbagai daerah yang menyebabkan perempuan selalu mendapatkan kekerasan seperti halnya rampasan perang. Dengan sedikit melihat fenomena sosial yang dalam masyarakat, maka dengan mudah kita akan menjumpai berbagai lokalisasi selalu menyuguhkan perempuan sebagai komoditas yang paling laku. Hal ini tidak bisa dpungkiri alasan seksualitas perempaun sampai kapanpun terus menjadi pemikat dalam struktur masyarakat manapun. Melalui pengalaman ini kita harus berhati-hati menempatkan perempuan.
Kesetaraan Gender
Menganlisis pengalaman yang terjadi maka kita perlu kembali meninjau kembali tuntutan sebagaian kalangan yang menghendaki adanya persamaan gender dalam segala bidang. Persamaan gender dapat dimanifestasikan menjadi suatu ketidakadilan menganggap perempaun tidak sebanding dengan laki-laki. dalam bidang-bidang tertentu laki-laki harus mengakui bahwa perempuan lebih hebat karena memang bidangnya. Bukan berarti berkaca pada ketakutan sejarah terpuruknya kaum perempuan namun tuntutan gender sangat tidak mungkin peramaan geder diwujudkan dalam segala hal dan dalam skala praktis bukan teoritis.
Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan yang juga mebutuhkan perhatian oleh kaum perempuan sendiri, yakni: Pertama, menata kembali kedudukan sebagain perempuan terkait dengan adanya prostitusi yang memang lazimnya dilakukan oleh perempaun. Kita dapat melihat kawasan prostitusi gang Dolly di Surabaya, jalan Sarkem di Jogjakarta, Sunan Kuning di Semarang, Tegal Panas di Ungaran, Kawasan RRI di Solo dan masih banyak tempat-tempat lain di tiap daerah. Kedua, Tingkatkan martabat perempuan khususnya yang berkerja sebagai Tenaga Kerja Wanita di luar negeri, yang tidak sedikit mendapat perlakuan kasar. Keempat, tingkatkan prestasi, produktivitas dan kretivitas perempuan dalam dunia kerja. Jangan samapi citra perempaun yang terlihat hanya sosok ”inem” yang identik dengan pembantu rumah tangga. Tentunya masih banyak proyek makro lainnya terkait pelepasan perempuan dari berbagai bentuk penindasan yang jauh lebih penting dari sekedar tuntutan persamaan gender.
Menentuakan posisi perempuan yang paling tepat adalah sesuai dengan fitrah atau kodratnya. Dan yang pasti bukan kodrat perempuan untuk ditindas oleh laki-laki. Bukan berarti menentukan kesetaraan dalam segala bidang tanpa memandang jenis seks, karena itu sama artinya dengan menutup mata. Idealnya adanya pembagian kerja yang tepat antara laki-laki dengan perempuan pada bidang-bidang tertentu, namun tidak menutup kemungkinan jika harus berdampingan antara perempuan dan laki-laki. Perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan justru akan memperindah sistem kehgidupan yang terratur, serta akan meminimalisir berbagai bentuk penyimpangan ataupu alih fungsi gender. Perbedaan yang ada adalah sebagai suatu sistem yag akan menumbuhkan keharmonisan kehidupan jika salah atau ada perubahan maka akan terjadi adalah kegoncangan. Yang tidak boleh terjadi serta tidak boleh ditolerir yakni penyimpangan gender seperti pengekangan hak-hak perempuan oleh laki-laki hanya karena alasan gender.



