-18 Desember diperingati sebagai hari buruh migran sedunia-
Kamis (18 Desember 2008), sekitar seribu massa buruh migran Indonesia menggelar aksi unjuk rasa memperingati hari buruh migran sedunia di Bundaran Hotel Indonesia. Mereka menggelar seni Reog serta aksi teatrikal yang menggambarkan nasib pekerja Indonesia di luar negeri dan buruknya pelayanan pemerintah.
Unjuk rasa ini di latarbelakangi isu nasib buruh migran di tengah migran di tengah krisis ekonomi global. Menurut Wahyu Susilo, analis dari Migrant Care, LSM yang menangani masalah buruh migran mengungkapkan bahwa 300 ribu TKI di Malaysia terancam PHK karena krisis global yang melanda negaranya. Selain itu sebanyak 5.000 TKI di Korea tidak mendapat pekerjaan. Sebagian besar TKI Indonesia yang berada di Korea bekerja sebagai buruh di bidang manufactur dan perusahaan manufaktur ini yang paling banyak terkena imbas krisis global. Hal ini diperparah kebanyak TKI tidak bisa pulang ke Indonesia karena masalah tidak adanya biaya untuk pulang dan mereka menganggap bahwa kondisi mereka akan lebih buruk jika pulang ke kampung halaman. Berbagai penyiksaan pun tak luput di hadapi TKI di luar negeri.
Deskripsi di atas menunjukkan bahwa begitu sengsaranya nasib para buruh TKI di luar negeri. Padahal notabene mereka telah menyumbangkan devisa yang besar bagi pendapatan Indonesia. Tetapi masih saja pemerintah mengacuhkan nasib mereka. Alih-alih untuk mengurangi pengangguran, kebijakan pemerintah justru memperbesar jumlah tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri. Pemerintah seolah ingin melepas tangan terhadap persoalan yang menimpa para TKI. Harusnya pemerintah berterimakasih kepada TKI yang telah menyumbang besar terhadap Negara bukan menjadikan mereka sebagai budak. Layakkah ini diterima oleh TKI yang telah berjasa pada bangsa? Tanpa jaminan apapun, nyawa terkadang menjadi taruhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar