Sabtu, 31 Januari 2009

Aku pengen bercerita

Aku pengen bercerita tentang aku yang tak pernah bisa sempurna.
Aku bahkan tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku terlalu rapuh untuk berjalan. Menyusuri jalan yang berliku, jalan yang penuh hambatan.

Senin, 29 Desember 2008

Mengenal Perempuan, perspektif multi dimensional approach

Bulan Desember yang diperingati sebagai hari ibu telah mengerakkan berbagai kalangan untuk bersama-sama merayakannya. Entah itu merupakan aktualisasi hati nurani yang tercurah bagi ’kaum Ibu’ atupun yang numpang tenar pada event yang dikenal luas, yang pasti mereka bersama-sama berteriak nyaring. Suasa ini nampak ramai setidaknya sebelum terkalahkan pamor hari natal yang tidak kalah eksplosive ataupun tahun baru yang juga semaraknya. Akankah hari ibu sebatas itu saja? bahyak alibi yang menyatakan bahwa setiaphari adalah ”hari ibu”, namun juga baru sebatas nama saja. terlepas dari itu, masih ada hal yang jauh lebih penting yaitu perumusan kedudukan perempuan. Pada setiap masa yang berganti, maka kedudukan perempuan juga harus berganti termesuk pada masa sekarang ini yang sering banyak LSM serukan yakni penyetaraan gender. Tuntutan tersebut muncul karena banyak anggapan kalau perempuan dalam kedudukannya selalu dibawah pria, yang mendorong perampasan hak perempuan oleh laki-laki.

Dilihat dari sejarahnya tidak semua perempuan adalah demikian buruknya. salahsatunya adalah adalah istri Louis XIV yang membujuk untuk melakukan korupsi pada kerajaan. Disini dapat kita lihat kalaupun lelaki terlihat superioritasnya setidaknya hany sekedar pencitraan saja, namun sangat kontras sekali dalam praktiknya. Gambaran Louis XIV ini pasti adalah fenomena gunung es, yang artinya banyak kasus yang demikian terjadi pada sebuah keluarga. Bahkan lelaki sekeras dan skejam Hitler pun menyempatkan diri menikahi kekasihnya selama setengah hari sebelum ia meninggal. Sisi yang sarupa juga ditunmjukkan oleh Betris Prince, Lady Diana, Theresa, Gloria Magapacal Aroyo, Khadijah, ataupun kartini. Jelasa mereka sama sekali bukan seperti yang di anggap awam yakni termarginalkan oleh superioritas laki-laki.

Kontras dengan kondisi diatas yang sedikit alasan gender perempuan selalu kalah dalam segalanya. Kebudayaan budak yang legal diberbagai masa salah satunya adalah Timur Tengah yang menengahkan sosok perempuan adalah seharga secangkir arak, ataupun di Amerika saat para budak perempuan sebagai mesin pekerja perkebunan yang sekaligus sebagai mesin uang bagi majikannya. Kalaupun harus marah, ternyata kita sendiri juga pernah mengalami perdagangan budak perempuan yang kebanyakan diperjualbelikan kepada saudagar keturunan Tionghoa. Belumlagi dalam kondisi keamanan yang tidak menguntungkan maka perempuanlah yang pertama menerima akibatnya, hal ini selalu terjadi diberbagai daerah yang menyebabkan perempuan selalu mendapatkan kekerasan seperti halnya rampasan perang. Dengan sedikit melihat fenomena sosial yang dalam masyarakat, maka dengan mudah kita akan menjumpai berbagai lokalisasi selalu menyuguhkan perempuan sebagai komoditas yang paling laku. Hal ini tidak bisa dpungkiri alasan seksualitas perempaun sampai kapanpun terus menjadi pemikat dalam struktur masyarakat manapun. Melalui pengalaman ini kita harus berhati-hati menempatkan perempuan.

Kesetaraan Gender

Menganlisis pengalaman yang terjadi maka kita perlu kembali meninjau kembali tuntutan sebagaian kalangan yang menghendaki adanya persamaan gender dalam segala bidang. Persamaan gender dapat dimanifestasikan menjadi suatu ketidakadilan menganggap perempaun tidak sebanding dengan laki-laki. dalam bidang-bidang tertentu laki-laki harus mengakui bahwa perempuan lebih hebat karena memang bidangnya. Bukan berarti berkaca pada ketakutan sejarah terpuruknya kaum perempuan namun tuntutan gender sangat tidak mungkin peramaan geder diwujudkan dalam segala hal dan dalam skala praktis bukan teoritis.

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan yang juga mebutuhkan perhatian oleh kaum perempuan sendiri, yakni: Pertama, menata kembali kedudukan sebagain perempuan terkait dengan adanya prostitusi yang memang lazimnya dilakukan oleh perempaun. Kita dapat melihat kawasan prostitusi gang Dolly di Surabaya, jalan Sarkem di Jogjakarta, Sunan Kuning di Semarang, Tegal Panas di Ungaran, Kawasan RRI di Solo dan masih banyak tempat-tempat lain di tiap daerah. Kedua, Tingkatkan martabat perempuan khususnya yang berkerja sebagai Tenaga Kerja Wanita di luar negeri, yang tidak sedikit mendapat perlakuan kasar. Keempat, tingkatkan prestasi, produktivitas dan kretivitas perempuan dalam dunia kerja. Jangan samapi citra perempaun yang terlihat hanya sosok ”inem” yang identik dengan pembantu rumah tangga. Tentunya masih banyak proyek makro lainnya terkait pelepasan perempuan dari berbagai bentuk penindasan yang jauh lebih penting dari sekedar tuntutan persamaan gender.

Menentuakan posisi perempuan yang paling tepat adalah sesuai dengan fitrah atau kodratnya. Dan yang pasti bukan kodrat perempuan untuk ditindas oleh laki-laki. Bukan berarti menentukan kesetaraan dalam segala bidang tanpa memandang jenis seks, karena itu sama artinya dengan menutup mata. Idealnya adanya pembagian kerja yang tepat antara laki-laki dengan perempuan pada bidang-bidang tertentu, namun tidak menutup kemungkinan jika harus berdampingan antara perempuan dan laki-laki. Perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan justru akan memperindah sistem kehgidupan yang terratur, serta akan meminimalisir berbagai bentuk penyimpangan ataupu alih fungsi gender. Perbedaan yang ada adalah sebagai suatu sistem yag akan menumbuhkan keharmonisan kehidupan jika salah atau ada perubahan maka akan terjadi adalah kegoncangan. Yang tidak boleh terjadi serta tidak boleh ditolerir yakni penyimpangan gender seperti pengekangan hak-hak perempuan oleh laki-laki hanya karena alasan gender.

Kamis, 25 Desember 2008

Kata Mutiara (Versi Tokoh2 Dunia)

Semua yang dimulai dengan rasa marah, akan berakhir dengan rasa malu.
( Benjamin Franklin )

Orang yang bahagia bukanlah orang pada lingkungan tertentu, melainkan orang dengan sikap-sikap tertentu.
( Hugh Downs )

Sukses seringkali datang pada mereka yang berani bertindak, dan jarang menghampiri penakut yang tidak berani mengambil konsekuensi.
( Jawaharlal Nehru )

Orang yang luar biasa itu sederhana dalam ucapan, tetapi hebat dalam tindakan.
( Confusius )

Kita tidak tahu bagaimana hari esok, yang bisa kita lakukan ialah berbuat sebaik- baiknya dan berbahagia pada hari ini.
( Samuel Taylor Coleridge )

Kesalahan terbesar yang bisa dibuat oleh manusia di dalam kehidupannya adalah terus-menerus mempunyai rasa takut bahwa mereka akan membuat kesalahan.
( Elbert Hubbard )

Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita jatuh.
( Confusius )

Semua orang tidak perlu menjadi malu karena pernah berbuat kesalahan, selama ia menjadi lebih bijaksana daripada sebelumnya.
( Alexander Pope )

Kita berdoa kalau kesusahan dan membutuhkan sesuatu, mestinya kita juga berdoa dalam kegembiraan besar dan saat rezeki melimpah.
( Kahlil Gibran )

Musuh yang paling berbahaya di atas dunia ini adalah penakut dan bimbang. Teman yang paling setia, hanyalah keberanian dan keyakinan yang teguh.
( Andrew Jackson )

Kebanyakan dari kita tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki, tetapi kita selalu menyesali apa yang belum kita capai.
( Schopenhauer )

Tidak ada pelaut ulung yang dilahirkan dari samudera yang tenang, tapi ia akan dilahirkan dari samudera yang penuh terpaan badai, gelombang dan topan
( D Farhan Aulawi )

THE CONSTANT GARDENER, Film Fernando Meirelles diambil dari Novel Karya John le Carre


Kisahnya diawali oleh sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Justin Quayle (Ralph Fiennes) adalah seorang diplomat Inggris yang jatuh cinta pada Tessa Quayle (Rachel Weisz), seorang aktivis lingkungan dan HAM. Rasa cinta mereka satu sama lain akhirnya berlanjut ke jenjang pernikahan.

Tak lama kemudian, Justin ditugaskan oleh Pemerintah Inggris ke Afrika, tepatnya di kawasan Kenya Utara. Tessa, yang saat itu tengah mengandung, tak sampai hati melihat penderitaan rakyat Kenya yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Karena kecurigaannya terhadap konspirasi jahat oleh sebuah perusahaan yang diduga terlibat dalam praktek perdagangan ilegal (obat-obatan terlarang), ia pun melakukan investigasi bersama rekan aktivisnya yang juga berprofesi sebagai seorang dokter, Arnold Bluhm (Hubert Kounde).

Namun, rasa keingintahuan Tessa ternyata mendapat perlawanan dari Kedutaan Besar Inggris di Kenya. Para diplomat menganggap tindakan istri Justin itu dapat mengancam kepentingan politik luar negeri Pemerintah Inggris.

Tapi Tessa tetap nekad dan terus melakukan penelusuran bukti-bukti kejahatan yang dilakukan oleh segelintir kaum elit disana. Akhirnya, ia pun dibunuh dengan keji di tengah perjalanan, bersama sopir dan rekan kerjanya, Dr. Arnold.

Mendengar kabar bahwa istri yang sangat dicintainya itu tewas dibunuh, Justin pun tidak tinggal diam dan bermaksud mencari tahu kebenaran dibalik semua insiden tersebut. Ia pun berani mempertaruhkan reputasi, karir dan nama baiknya demi melanjutkan penyelidikan Tessa tentang konspirasi jahat itu.

Tanpa sepengetahuan rekan-rekan sejawatnya di lingkungan Kedutaan Besar Inggris, ia pun kembali menemukan bukti-bukti lain yang lebih mengejutkan tentang sindikat kriminal yang aktivitasnya selama ini tak pernah tercium oleh publik.

Sutradara Fernando Meirelles, rupanya berhasil mengangkat cerita yang ditulis dalam novel karya John le Carre ini ke dalam sebuah film drama thriller yang sangat menegangkan dan membuat semua pemirsanya mampu berpikir lebih jauh tentang konflik antara sisi gelap dan terang dari karakter manusia.

Selain mengupas tentang isu politik internasional dan perdagangan ilegal, sutradara film CITY OF GOD itu juga piawai dalam mengetengahkan nilai-nilai universal tentang kehidupan. Simak saja bagaimana kuatnya kesetiaan Justin pada Tessa, meski istrinya itu sempat dicurigai berselingkuh. Film ini berpesan bahwa dibalik semua motivasi manusia, selalu terdapat kekuatan cinta disana.

THE CONSTANT GARDENER, Novel Karya John le Carre

Kisah Elegi Cinta yang Tak Biasa. Mencekam, Menyentuh dan Dituturkan dengan Sangat Indah

Di tepi Danau Turkana, Kenya, seorang istri diplomat Inggris tewas terbunuh dengan tragis. Justin Quayle memutuskan untuk menyibakkan tabir gelap yang menyelubungi kematian Tessa, istrinya, dan teman seperjalanannya, seorang dokter kebangsaan Belgia bernama Dr. Arnold Blumh. Penyelidikannya itu ternyata membuatnya terseret dalam konspirasi kejam antara sebuah perusahaan farmasi raksasa, para birokrat haus kekuasaan di Departemen Luar Negeri, dan tokoh ternama dalam kancah politik Inggris. Justin pun harus mempertaruhkan nyawa dan kariernya sebagai diplomat ketika berusaha menyusuri jejak yang ditinggalkan Tessa dan mengungkapkan kebusukan dalam sistem kapitalisme global.

Selain menampilkan kisah seru politik internasional, perdagangan ilegal, dan permasalahan yang menimpa dunia ketiga seperti Kenya. John le Carre juga piawai mengetengahkan nilai-nilai universal tentang kehidupan : menggugah pembaca untuk mampu berpikir lebih jauh tentang konflik antara sisi gelap dan terang dari karekter manusia dan merasakan kekuatan cinta sepasang insan yang berbeda pandangan.




Kamis, 18 Desember 2008

Jeritanku (1) Aku, Kau dan Duniaku

Aku benci politik...

Aku berharap aku bisa belajar di tempat ini. Aku besar di tempat ini dan aku mengerti banyak hal di tempat ini. Aku mulai menyayangi semua yang ada disini. Semakin aku dewasa, aku tahu bahwa "tak ada yang abadi di dunia ini". Rasa senangku akan duniaku seakan sirna karenanya... Kau tau kenapa? karena politik.. Duniaku yang kecil, duniaku yang manis, duniaku yang indah telah hilang.

Politik itu busuk. Politik itu kejam. Semua penuh dengan kebohongan, kebencian, dusta dan fitnah. Teman bisa menjadi lawan, teman bisa saling menjatuhkan, teman bisa saling membunuh agar ia duduk di atas Kursi Politik dengan rasa "aman". Ketakutan untuk disaingi, ketakutan untuk kalah, ketakutan untuk tidak berwibawa lagi menjadi alasan utama. Sungguh benar2 engkau seorang yang bagiku adalah picik dan licik. Engkau mengatasnamakan anak buah untuk menutupi ketakutanmu.

Tapi aku...aku seperti diterka dari belakang.. Aku seperti dijatuhkan dari bukit yang paling tinggi. Akhirnya rasaku sudah hilang..dan aku ingin pergi dari duniaku. Ada yang menahanku untuk pergi dari sini, entah apa.. Mungkin rasa cintaku terhadap duniaku. Aku seolah ada di sini tetapi bukan hatiku.. dan aku mulai pergi...

Duniaku...setelah sekian lama aku pergi. Adakah engkau mengingatku? Paling tidak aku adalah orang yang selalu menyayangimu. Tapi ketika engkau tak berdaya seperti sekarang ini..aku hanya bisa memandang. Aku merasa bersalah kepadamu, kenapa dulu aku pergi sebelum aku berusaha lagi.

Duniaku...ingatlah kita punya cara kita sendiri untuk maju, tetaplah menjadi engkau. Karena engkau tetaplah jadi engkau, tak pernah menyerah pada keadaan, jadilah bukan mahasiswa biasa. Duniaku...pilihlah yang terbaik diantara yang baik. Jangan pernah tertutup oleh segala sesuatu yang "mudah". seolah-olah kemudahan itu justru akan menjadikanmu bodoh, menjadikanmu tidak mau belajar, menjerumuskanmu ke dalam jurang ke-egoanmu. Janganlah menganggap semua-nya sulit, karena semua pasti ada jalan-nya. Duniaku..selamat berjuang..selamat belajar.. I love you..

Peringatan Hari Buruh Migran Se-Dunia

-18 Desember diperingati sebagai hari buruh migran sedunia-

Kamis (18 Desember 2008), sekitar seribu massa buruh migran Indonesia menggelar aksi unjuk rasa memperingati hari buruh migran sedunia di Bundaran Hotel Indonesia. Mereka menggelar seni Reog serta aksi teatrikal yang menggambarkan nasib pekerja Indonesia di luar negeri dan buruknya pelayanan pemerintah.

Unjuk rasa ini di latarbelakangi isu nasib buruh migran di tengah migran di tengah krisis ekonomi global. Menurut Wahyu Susilo, analis dari Migrant Care, LSM yang menangani masalah buruh migran mengungkapkan bahwa 300 ribu TKI di Malaysia terancam PHK karena krisis global yang melanda negaranya. Selain itu sebanyak 5.000 TKI di Korea tidak mendapat pekerjaan. Sebagian besar TKI Indonesia yang berada di Korea bekerja sebagai buruh di bidang manufactur dan perusahaan manufaktur ini yang paling banyak terkena imbas krisis global. Hal ini diperparah kebanyak TKI tidak bisa pulang ke Indonesia karena masalah tidak adanya biaya untuk pulang dan mereka menganggap bahwa kondisi mereka akan lebih buruk jika pulang ke kampung halaman. Berbagai penyiksaan pun tak luput di hadapi TKI di luar negeri.

Deskripsi di atas menunjukkan bahwa begitu sengsaranya nasib para buruh TKI di luar negeri. Padahal notabene mereka telah menyumbangkan devisa yang besar bagi pendapatan Indonesia. Tetapi masih saja pemerintah mengacuhkan nasib mereka. Alih-alih untuk mengurangi pengangguran, kebijakan pemerintah justru memperbesar jumlah tenaga kerja yang dikirim ke luar negeri. Pemerintah seolah ingin melepas tangan terhadap persoalan yang menimpa para TKI. Harusnya pemerintah berterimakasih kepada TKI yang telah menyumbang besar terhadap Negara bukan menjadikan mereka sebagai budak. Layakkah ini diterima oleh TKI yang telah berjasa pada bangsa? Tanpa jaminan apapun, nyawa terkadang menjadi taruhan.